WARTA BARU

UIN Sunan Kalijaga dan UIN Mataram Perkuat Komitmen Pendidikan Tinggi Inklusif Melalui Riset Nasional Pengembangan Unit Layanan Disabilitas

Foto bersama tim UIN Sunan Kalijaga dan UIN Mataram usai penandatanganan kerja sama pengembangan model layanan disabilitas untuk perguruan tinggi Indonesia.

Warta IDN,
 Mataram – UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai pelopor pendidikan tinggi inklusif di Indonesia melalui kerja sama strategis dengan UIN Mataram dalam pelaksanaan penelitian yang didanai oleh MORA Aif Funds Tahun 2026. Penelitian tersebut mengusung tema Organizational Development and Inclusive Governance: Developing a Disability Service Unit Model for Indonesian Higher Education yang bertujuan mengembangkan model Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang dapat diimplementasikan dan direplikasi di perguruan tinggi Indonesia, khususnya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Kegiatan yang berlangsung pada 2–4 Juni 2026 di UIN Mataram ini merupakan bagian dari tahap awal penelitian berupa analisis kebutuhan (need assessment) dan pemetaan kesiapan kelembagaan dalam penyelenggaraan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Tim peneliti dari UIN Sunan Kalijaga yang dipimpin oleh Ro’fah, Ph.D. selaku ketua peneliti bersama Jamil Suprihatiningrum, Ph.D. melakukan serangkaian diskusi, pengumpulan data, dan kajian awal terhadap berbagai aspek layanan inklusif yang telah berkembang di UIN Mataram.

Kedatangan tim peneliti diterima oleh Dr. Mira Mareta, M.A., Ketua Pusat Studi Gender dan Anak, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Mataram. Dalam pertemuan tersebut, kedua institusi berdiskusi mengenai penguatan tata kelola kampus inklusif, tantangan implementasi layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, serta peluang kolaborasi jangka panjang dalam pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan tinggi inklusif.

Ro’fah menjelaskan bahwa penelitian ini lahir dari kebutuhan untuk menjembatani kesenjangan antara regulasi nasional dan praktik layanan di perguruan tinggi. Meskipun berbagai regulasi telah mengamanatkan penyediaan layanan dan akomodasi yang layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas, banyak perguruan tinggi masih menghadapi tantangan dalam membangun sistem layanan yang terstruktur, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan tata kelola universitas.

“Selama ini banyak kampus telah memiliki komitmen terhadap inklusi, tetapi belum semuanya memiliki model kelembagaan yang dapat menjadi acuan dalam mengembangkan layanan secara sistematis. Melalui penelitian ini kami ingin mengembangkan model ULD yang tidak hanya relevan secara konseptual, tetapi juga dapat diterapkan sesuai konteks perguruan tinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Penelitian ini menggunakan kerangka Organizational Development (OD) dan Inclusive Governance (IG) sebagai landasan pengembangan model. Pendekatan tersebut menempatkan layanan disabilitas bukan sekadar sebagai unit administratif, melainkan sebagai bagian dari transformasi kelembagaan yang melibatkan kepemimpinan, budaya organisasi, partisipasi pemangku kepentingan, serta pengambilan keputusan yang inklusif.

Menurut Jamil Suprihatiningrum, tahap analisis kebutuhan menjadi fondasi penting dalam proses pengembangan model. Pada tahap ini, tim peneliti mengkaji berbagai aspek, mulai dari kebijakan kampus, kesiapan sumber daya manusia, aksesibilitas sarana dan prasarana, mekanisme layanan, hingga budaya organisasi yang mendukung terwujudnya kampus inklusif.

“Hasil dari tahap awal ini akan menjadi dasar dalam merancang model ULD yang tidak hanya memperkuat layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, tetapi juga mendukung perubahan organisasi menuju tata kelola perguruan tinggi yang lebih inklusif dan berkeadilan,” jelasnya.

Selain menjadi lokasi penelitian, UIN Mataram juga diproyeksikan sebagai salah satu mitra utama dalam proses validasi dan pengembangan model yang akan dilaksanakan secara bertahap hingga tahun 2027. Bersama UIN Sunan Kalijaga dan PTKI mitra lainnya, UIN Mataram akan berkontribusi dalam penyempurnaan model melalui berbagai tahapan uji coba dan evaluasi implementasi.

Momentum kunjungan ini juga ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Mataram sebagai bentuk penguatan kerja sama kelembagaan kedua perguruan tinggi. Kesepakatan tersebut mencakup pengembangan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi dalam penguatan pendidikan tinggi inklusif.

Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring kampus inklusif di lingkungan PTKI sekaligus memperkuat implementasi berbagai kebijakan nasional terkait pemenuhan hak penyandang disabilitas di perguruan tinggi.

Penelitian yang berlangsung selama dua tahun ini menargetkan lahirnya model Unit Layanan Disabilitas berbasis Organizational Development dan Inclusive Governance, lengkap dengan panduan implementasi, modul pelatihan bagi dosen dan tenaga kependidikan, sistem informasi layanan disabilitas, serta rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi rujukan nasional.

Melalui kolaborasi ini, UIN Sunan Kalijaga dan UIN Mataram menunjukkan komitmen bersama untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang lebih inklusif, aksesibel, dan berkeadilan, sehingga setiap mahasiswa, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan akademik.

 

Warta Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image