KKN-PK Unhas Edukasi 23 Peternak di Anabanua Cegah Penyakit Mulut dan Kuku pada Sapi
Pemberian Vitamin dan edukasi ke peternak anabanua
ANABANUA — Guna menekan risiko penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta meningkatkan produktivitas ternak warga, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Angkatan 69 Universitas Hasanuddin Posko Desa Anabanua menerjunkan tim untuk menyambangi rumah-rumah peternak sapi rakyat melalui pendekatan langsung (door to door).
Langkah pendekatan personal ini dipilih agar penyampaian informasi mengenai kesehatan hewan dapat berlangsung lebih interaktif dan tepat sasaran.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Sabtu hingga Senin (1–3 Agustus 2026) pada pukul 07.00 hingga 18.00 WITA ini, dipimpin oleh Muhammad Ghifari Triaji Pamungkas (C031231026) dari program studi Kedokteran Hewan selaku penanggung jawab program. Sebanyak 23 peternak yang tersebar di empat dusun, yaitu Dusun Daccipong, Banga-banga, Allejjang, dan Gelleng’e, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, menjadi sasaran utama dalam aksi edukasi dan intervensi kesehatan hewan tersebut.
Dalam interaksi tatap muka tersebut, para peternak dibekali pemahaman mendalam mengenai pengenalan PMK, gejala klinis seperti hipersalivasi dan munculnya lesi pada area mulut maupun kuku, hingga pola penularan penyakit tersebut. Seluruh materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif agar lebih mudah dicerna oleh para peternak tradisional di desa setempat.
Untuk memperkuat edukasi verbal yang telah diberikan, mahasiswa turut membagikan media cetak berupa brosur edukatif. Brosur ini dirancang khusus sebagai panduan praktis yang memuat materi ringkas mengenai biosekuriti kandang, tata cara pencegahan cacingan, hingga manfaat pemberian vitamin, sehingga peternak dapat membaca kembali materi tersebut secara mandiri maupun membagikannya kepada sesama peternak.
Fokus penting lain dalam kegiatan ini adalah dorongan perbaikan manajemen sanitasi lingkungan tempat tinggal ternak. Mahasiswa memberikan pemahaman terkait risiko pemeliharaan sapi di bawah rumah panggung pola tradisional yang masih marak dijumpai—terutama bila tidak dilengkapi dengan sistem ventilasi, drainase, dan pembuangan limbah yang memadai untuk mencegah penumpukan kuman penyakit.
Sejalan dengan hal tersebut, peternak diimbau untuk menerapkan 5 langkah biosekuriti dasar secara rutin. Langkah-langkah praktis tersebut mencakup pembersihan kandang secara harian, penyediaan air bersih, pemanfaatan pencahayaan sinar matahari yang cukup, penggunaan alas kaki khusus saat masuk ke area kandang, serta tindakan isolasi atau pemisahan bagi ternak yang terindikasi sakit guna mencegah potensi penularan.
Tidak hanya sebatas penyampaian teori, program ini diimbangi dengan aksi intervensi kesehatan langsung di lapangan bagi peternak yang bersedia. Dukungan suplemen yang diberikan meliputi suntikan maupun bolus Vitamin B-kompleks serta obat cacing (antelmintik) untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak, mencegah infeksi parasit, dan memacu pertumbuhan bobot badan sapi.
Sebagai bentuk dukungan teknis tambahan bagi reproduksi ternak warga, tim mahasiswa KKN-PK Unhas ini juga memfasilitasi pendampingan dan pelaksanaan perlakuan Inseminasi Buatan (IB) pada sapi rakyat. Langkah teknis ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas genetik dan populasi ternak lokal di Desa Anabanua secara berkelanjutan.
Rangkaian program kerja ini diakhiri dengan tahap evaluasi ketercapaian indikator teknis yang dilakukan secara luring. Berdasarkan pencatatan akhir, seluruh target utama—mulai dari tingkat penerimaan penyuluhan, pembagian brosur, hingga pelaksanaan intervensi kesehatan—berhasil dicapai dengan tingkat keberhasilan dan sambutan positif yang sangat tinggi dari masyarakat di keempat dusun tersebut.