Menulis dari Pinggiran: Refleksi Seorang Akademisi Perempuan tentang Akses Publikasi
| Ilustrasi: Yusmaneli / AI-Generated (Gemini) |
Oleh: Yusmaneli, Dosen Senior Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan & Peneliti Pendidikan Lintas Budaya Aceh-Malaysia.
Warta IND, Opini - Saya masih ingat
persis momen itu. Tahun 2018, di sebuah konferensi pendidikan di Kuala Lumpur,
seorang profesor dari universitas ternama bertanya kepada saya: "You're
from Aceh? That's interesting. But where do you publish your research? I've
never seen work from that region in international journals."
Pertanyaan itu
diajukan dengan nada penasaran, bukan meremehkan. Tetapi entah mengapa, saya
merasa ada yang menusuk. Bukan karena saya tidak punya jawaban — saya sudah
mempublikasikan puluhan artikel, baik di jurnal nasional maupun regional.
Tetapi karena pertanyaan itu menyingkap sesuatu yang lebih besar: ada seluruh
ekosistem pengetahuan yang tidak terlihat dalam peta akademik global, hanya
karena ia tidak dipublikasikan di tempat yang "tepat."
Sejak saat itu, saya mulai bertanya: siapa yang menentukan tempat mana yang "tepat"? Dan lebih penting lagi: pengetahuan siapa yang hilang dalam proses seleksi itu?
Geografi Pengetahuan yang Tidak Adil
Sebagai akademisi
perempuan yang bekerja di wilayah yang sering disebut "pinggiran" —
baik dalam konteks geografis maupun epistemik — saya sangat menyadari bahwa
akses terhadap publikasi ilmiah bukan hanya soal kualitas riset. Ia juga soal
posisi, jaringan, bahasa, dan — mari kita jujur — privilege.
Ketika seorang
peneliti dari Jakarta atau Bandung ingin mempublikasikan artikel di jurnal
internasional, mereka punya akses ke perpustakaan digital yang lengkap, dana
institusi untuk membayar APC, dan jaringan kolega yang bisa memberikan masukan
sebelum submit. Ketika saya dan rekan-rekan di Aceh ingin melakukan hal yang
sama, kami harus bekerja dua kali lebih keras: mencari akses jurnal melalui
cara-cara kreatif, mengumpulkan dana dari kantong sendiri, dan sering kali
menulis sendirian tanpa komunitas akademik yang cukup besar untuk memberikan
peer feedback.
Ini bukan keluhan. Ini adalah realitas struktural yang jarang dibicarakan dalam diskusi tentang "kualitas publikasi."
Dilema Perempuan Akademisi: Antara Karier dan Kehidupan
Ada lapisan lain yang
perlu saya tambahkan: sebagai perempuan, terutama yang sudah berkeluarga,
keputusan untuk mengejar publikasi di jurnal bergengsi sering kali datang
dengan biaya personal yang tidak kecil.
Proses menulis artikel
untuk jurnal internasional bisa memakan waktu berbulan-bulan — dari riset
literatur, analisis data, hingga revisi berkali-kali setelah review. Ini adalah
waktu yang, bagi banyak perempuan akademisi, harus "dicuri" dari waktu
bersama anak, dari tanggung jawab domestik yang masih sangat timpang, dari
energi emosional yang sudah terkuras oleh tuntutan ganda sebagai dosen dan ibu.
Saya tidak mengatakan
bahwa laki-laki tidak menghadapi tekanan serupa. Tetapi data dan pengalaman
menunjukkan bahwa beban ganda ini secara tidak proporsional ditanggung oleh
perempuan — dan ini berdampak langsung pada produktivitas publikasi kami.
Jadi ketika ada diskusi tentang "mengapa perempuan kurang produktif dalam publikasi internasional," saya selalu ingin bertanya balik: apakah kita sudah memperhitungkan konteks struktural yang membuat perempuan harus memilih antara karier akademik dan kewarasan mental?
Jurnal Nasional sebagai Ruang yang Lebih Ramah
Di sinilah saya
menemukan bahwa jurnal-jurnal nasional — terutama yang fokus pada pengabdian
masyarakat dan pendidikan — menawarkan sesuatu yang sangat berharga:
aksesibilitas tanpa mengorbankan integritas.
Ketika saya mengirim
artikel ke jurnal seperti AJAD, JPMN, atau JPN Indonesia, saya tidak hanya
mendapat respons yang lebih cepat (biasanya 2-4 bulan), tetapi juga proses
review yang lebih konstruktif. Editor dan reviewer di jurnal-jurnal ini
memahami konteks lokal. Mereka tidak meminta saya untuk
"menginternasionalkan" temuan yang memang sangat spesifik untuk
konteks Aceh atau wilayah perbatasan Aceh-Malaysia. Mereka menghargai
pengetahuan lokal sebagaimana adanya.
Ini bukan berarti standar mereka rendah. Justru sebaliknya. Tetapi fokus mereka berbeda: bukan pada orisinalitas teori universal, melainkan pada relevansi praktis dan kualitas dokumentasi. Dan bagi penelitian saya tentang pendidikan multikultural di wilayah perbatasan, atau tentang strategi pembelajaran bahasa untuk anak-anak di daerah konflik, jurnal-jurnal ini adalah rumah yang jauh lebih tepat daripada jurnal internasional yang audiensnya tidak akan pernah memahami nuansa konteks yang saya teliti.
Pengetahuan Perempuan, Pengetahuan Lokal
Ada ironi yang sering
saya rasakan: sebagai peneliti perempuan yang fokus pada isu-isu pendidikan di
komunitas marginal, saya menghasilkan pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh
praktisi lapangan — guru, kepala sekolah, petugas dinas pendidikan, aktivis
komunitas. Tetapi jika saya hanya mengejar publikasi di jurnal internasional
yang tidak terbaca oleh mereka, apa gunanya?
Saya ingat sebuah
penelitian yang saya lakukan tentang strategi guru perempuan di daerah
terpencil Aceh dalam mengajar anak-anak yang mengalami trauma pasca-konflik.
Penelitian itu saya publikasikan di sebuah jurnal pengabdian masyarakat SINTA
4. Tidak lama setelah itu, saya dihubungi oleh seorang kepala sekolah dari Aceh
Tengah yang mengatakan bahwa artikel saya membantu mereka merancang program
pendampingan guru di daerah mereka.
Itu adalah bentuk dampak yang tidak akan pernah tercatat dalam h-index atau citation count. Tetapi bagi saya, itu adalah alasan terpenting mengapa saya melakukan riset.
Mengapa Kita Harus Berhenti Meremehkan Jurnal Nasional
Saya ingin mengajak
kita semua — terutama para pembuat kebijakan dan penilai kinerja akademik —
untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang kita nilai ketika kita
menilai publikasi?
Jika yang kita nilai
adalah kontribusi nyata kepada masyarakat, maka publikasi di jurnal nasional
yang terbaca oleh praktisi dan pembuat kebijakan lokal seharusnya dihargai
setara dengan publikasi di jurnal internasional.
Jika yang kita nilai
adalah keberagaman perspektif dan inklusivitas epistemik, maka kita harus
berhenti memaksakan satu standar publikasi yang pada dasarnya bias terhadap
peneliti dari wilayah pinggiran, perempuan, dan mereka yang bekerja dengan
sumber daya terbatas.
Jika yang kita nilai adalah keberlanjutan karier akademik yang sehat dan manusiawi, maka kita harus mengakui bahwa tidak semua orang punya privilege untuk menghabiskan enam bulan menunggu review dari jurnal Scopus, atau mengeluarkan Rp 10 juta untuk APC.
Jurnal Nasional Bukan Pilihan Kedua, Ia Adalah Pilihan yang Sah
Saya ingin menegaskan
dengan sangat jelas: memilih untuk mempublikasikan di jurnal nasional seperti
AJAD, JPMN, JPN Indonesia, PASAI, atau KJPKM Kawanad bukan tanda bahwa riset
Anda "tidak cukup baik" untuk jurnal internasional.
Itu adalah keputusan
strategis yang mempertimbangkan audiens, relevansi, aksesibilitas, dan dampak
nyata.
Itu adalah keputusan
yang mengakui bahwa tidak semua pengetahuan perlu — atau bahkan seharusnya —
dikemas untuk konsumsi global.
Itu adalah keputusan
yang menempatkan tanggung jawab kepada komunitas lokal di atas ambisi personal
untuk akumulasi prestise.
Dan itu adalah keputusan yang, bagi banyak dari kita yang bekerja di pinggiran, adalah satu-satunya keputusan yang realistis dan bertanggung jawab.
Membangun Solidaritas Epistemik
Saya percaya bahwa
kita perlu membangun apa yang saya sebut "solidaritas epistemik" —
sebuah komitmen kolektif untuk saling menghargai berbagai bentuk pengetahuan,
berbagai konteks produksi pengetahuan, dan berbagai pilihan strategis dalam
diseminasi pengetahuan.
Ini berarti:
Bagi peneliti senior
di universitas besar: gunakan privilege Anda untuk mengangkat suara peneliti
dari wilayah pinggiran. Sitir karya mereka. Ajak mereka berkolaborasi. Jangan
hanya bicara tentang inklusivitas, praktikkan.
Bagi pembuat
kebijakan: hentikan diskriminasi terhadap publikasi di jurnal nasional dalam
penilaian kinerja. Akui bahwa konteks itu penting, dan bahwa keberagaman
pilihan publikasi adalah tanda ekosistem yang sehat.
Bagi pengelola jurnal
nasional: terus tingkatkan kualitas, tetapi jangan kehilangan fokus pada
aksesibilitas. Anda adalah garda terdepan dalam demokratisasi pengetahuan.
Bagi peneliti muda, terutama perempuan: jangan biarkan siapapun membuat Anda merasa bahwa pilihan Anda untuk publikasi di jurnal nasional adalah tanda kegagalan. Itu adalah pilihan yang sah, strategis, dan sering kali lebih berdampak daripada yang kita sadari.
Menulis dari Pinggiran, untuk Pusat yang Baru
Saya menulis artikel
ini dari Banda Aceh — sebuah kota yang secara geografis dan epistemik sering
dianggap "pinggiran." Tetapi saya tidak menulis dari posisi yang
defensif atau meminta belas kasihan.
Saya menulis dari
keyakinan bahwa pinggiran adalah tempat di mana pengetahuan yang paling penting
sering kali dilahirkan — pengetahuan tentang resiliensi, tentang kreativitas
dalam keterbatasan, tentang cara-cara alternatif untuk memahami dan mengubah dunia.
Dan saya menulis
dengan harapan bahwa suatu hari, kita tidak lagi perlu membedakan antara
"jurnal internasional" dan "jurnal nasional" sebagai
hierarki prestise, tetapi sebagai pilihan strategis yang sama-sama sah dalam
ekosistem pengetahuan yang beragam dan inklusif.
Karena pada akhirnya,
pengetahuan yang paling berharga bukan yang paling banyak dikutip, tetapi yang
paling banyak mengubah kehidupan nyata.
Dan untuk itu, kita
membutuhkan jurnal-jurnal yang berani berdiri di pinggiran, melayani komunitas
yang sering terlupakan, dan memberikan ruang bagi suara-suara yang jarang
terdengar.
Jurnal nasional kita —
dengan segala keterbatasan dan potensinya — adalah rumah bagi suara-suara itu.
Dan sudah saatnya kita memperlakukan mereka dengan hormat yang pantas mereka terima.
Penulis adalah
dosen senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Banda Aceh.
Fokus penelitiannya adalah pendidikan multikultural, pembelajaran lintas budaya
di wilayah perbatasan Aceh-Malaysia, dan pedagogi trauma-informed untuk
anak-anak di daerah pasca-konflik. Telah mempublikasikan lebih dari 40 artikel
di jurnal nasional dan internasional, serta aktif dalam advokasi untuk
kesetaraan gender dalam dunia akademik.