Pakar UI Ingatkan Bahaya Kelelahan Kronis bagi Kesehatan Mental

Bahaya Kelelahan Kronis
Warta IDN, Jakarta – Kelelahan yang terus-menerus sering dianggap hal biasa di tengah aktivitas masyarakat modern yang padat. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda tubuh mengalami kelelahan kronis yang berisiko memicu gangguan kesehatan fisik maupun mental apabila dibiarkan berlarut-larut.
Praktisi Kesehatan Masyarakat lulusan Universitas Indonesia (UI), Ngabila Salama, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan sinyal tubuh saat mulai mengalami kelelahan berlebihan.
“Kalau diabaikan terus, kelelahan kronis bisa meningkatkan risiko kesehatan fisik dan mental,” ujar Ngabila seperti dikutip dari Antara, Minggu (10/5).
Tubuh Memberikan Tanda Saat Mulai Kelelahan
Ngabila menjelaskan, tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk memberi sinyal ketika energi mulai terkuras. Namun, banyak orang justru tetap memaksakan diri bekerja tanpa memberikan waktu istirahat yang cukup.
Beberapa tanda kelelahan kronis yang perlu diwaspadai antara lain menurunnya konsentrasi, mudah lupa, hingga perubahan emosi seperti lebih sensitif dan gampang marah.
Selain itu, kondisi fisik juga dapat ikut terdampak. Mata terasa berat, sakit kepala berkepanjangan, pegal-pegal, hingga daya tahan tubuh yang menurun menjadi gejala umum yang sering muncul.
Menurutnya, penurunan sistem imun akibat kelelahan dapat membuat seseorang lebih rentan terserang penyakit.
Kurang Tidur Jadi Pemicu Utama
Ngabila menyebut kurang tidur berkualitas sebagai salah satu penyebab utama kelelahan kronis. Karena itu, ia mendorong masyarakat mulai memperbaiki pola istirahat secara bertahap dan konsisten.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menambah durasi tidur saat akhir pekan untuk membantu mengurangi “utang tidur”. Namun, ia mengingatkan agar waktu tidur tambahan tidak berlebihan hingga melewati siang hari karena dapat mengganggu ritme tubuh.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga jadwal tidur tetap teratur setiap hari. Tidur dan bangun pada jam yang relatif sama dinilai lebih efektif membantu tubuh memulihkan energi.
Batasi Penggunaan Gawai Sebelum Tidur
Selain pola tidur, penggunaan gawai sebelum tidur juga dinilai memengaruhi kualitas istirahat. Paparan layar ponsel atau perangkat elektronik dapat membuat otak tetap aktif sehingga tubuh sulit rileks.
Ngabila menyarankan masyarakat menghentikan penggunaan gawai setidaknya satu jam sebelum tidur agar proses istirahat menjadi lebih optimal.
Dengan pola tidur yang lebih baik dan waktu istirahat yang cukup, risiko kelelahan kronis diharapkan dapat ditekan sehingga kesehatan fisik, mental, dan produktivitas tetap terjaga.