WARTA BARU

Uni Eropa Soroti Inverter Surya China, Dinilai Berisiko bagi Keamanan Energi

Uni Eropa Soroti Inverter Surya China

Warta IDN, Jakarta
— Uni Eropa mulai mengambil langkah tegas terhadap penggunaan teknologi surya asal China. Komisi Eropa memutuskan untuk membatasi penggunaan dana Uni Eropa dalam pembelian inverter surya buatan China karena dinilai berpotensi menimbulkan risiko keamanan pada jaringan listrik Eropa.

Kebijakan yang ditetapkan pada 4 Mei 2026 itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Brussel terhadap ketergantungan Eropa pada teknologi energi hijau impor, khususnya dari China. Selain soal dominasi pasar, Uni Eropa juga menyoroti potensi kerentanan pada infrastruktur energi strategis.

Inverter surya menjadi fokus utama dalam kebijakan tersebut. Perangkat ini berfungsi mengubah energi matahari menjadi listrik yang dapat digunakan dalam jaringan listrik. Selain itu, inverter modern umumnya terhubung ke internet dan dapat dikendalikan dari jarak jauh untuk kebutuhan pemeliharaan maupun pembaruan sistem.

Dikhawatirkan Ganggu Jaringan Listrik

Sekretaris Jenderal European Solar Manufacturing Council, Christoph Podewils, mengatakan hampir semua inverter memiliki fitur pemutus darurat atau emergency stop. Fitur tersebut sebenarnya dirancang untuk menjaga stabilitas jaringan listrik.

Namun, para ahli keamanan siber menilai sistem kendali jarak jauh itu juga dapat menjadi celah jika disalahgunakan oleh peretas maupun pihak asing yang bermusuhan.

Ahli keamanan siber Swantje Westphal menyebut skenario terburuknya adalah terjadinya pemadaman listrik besar-besaran di Eropa apabila sistem inverter berhasil diretas secara terkoordinasi.

Menurut data Organisasi Riset Loom yang berbasis di Jenewa, sebanyak 61 persen inverter yang diimpor ke Eropa pada 2024 berasal dari China. Dua perusahaan asal China, yakni Huawei dan Sungrow, saat ini mendominasi pasar inverter global, termasuk di kawasan Eropa.

Produsen China diketahui telah memasok perangkat untuk lebih dari 220 gigawatt kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Eropa.

Podewils menyebut penguasaan sekitar 10 gigawatt kapasitas saja sudah cukup untuk memicu gangguan besar pada sistem kelistrikan Eropa.

Belum Ada Kasus, tetapi Ancaman Dinilai Nyata

Hingga kini belum ditemukan kasus inverter China yang digunakan untuk mematikan jaringan listrik di Eropa. Meski demikian, kekhawatiran meningkat setelah laporan Reuters pada 2025 menyebut otoritas energi Amerika Serikat menemukan perangkat komunikasi mencurigakan di sejumlah inverter buatan China.

Westphal menilai ancaman tersebut bukan sekadar dugaan. Ia menyebut potensi penyalahgunaan teknologi energi yang terkoneksi internet perlu diantisipasi sejak dini.

Perdebatan mengenai keamanan inverter juga muncul di tengah ketergantungan besar Eropa terhadap produk teknologi hijau asal China. Data Loom menunjukkan China memasok sekitar 98 persen panel surya dan 88 persen baterai lithium-ion yang digunakan di Eropa.

Menurut Loom, teknologi energi yang memiliki sistem kendali jarak jauh dapat menjadi titik lemah dalam jaringan tenaga listrik jika tidak diawasi dengan ketat.

Uni Eropa Perketat Regulasi Teknologi China

Komisi Eropa sebelumnya juga telah memperkenalkan sejumlah kebijakan untuk memperkuat industri teknologi hijau lokal. Pada Maret 2026, Brussel memaparkan RUU Akselerator Industri yang bertujuan meningkatkan dukungan pendanaan bagi teknologi hijau buatan Eropa, termasuk baterai dan kendaraan listrik.

Selain itu, revisi RUU Keamanan Siber Uni Eropa juga memberi kewenangan lebih besar kepada Brussel untuk membatasi keterlibatan perusahaan China dalam infrastruktur kritis seperti sektor energi dan komunikasi.

Dalam aturan terbaru, dana yang dikelola langsung oleh Komisi Eropa maupun lembaga keuangan Uni Eropa tidak lagi dapat digunakan untuk membeli inverter surya asal China.

Namun, pembatasan tersebut belum berlaku untuk pembelian langsung yang dilakukan masing-masing negara anggota Uni Eropa. Inverter China yang sudah terpasang juga masih diizinkan untuk tetap beroperasi.

Produsen Eropa Dinilai Siap Mengisi Pasar

Saat ini sekitar 80 persen sistem PLTS baru di Eropa masih menggunakan inverter buatan China. Kondisi itu membuat produsen Eropa harus bekerja cepat jika ingin mengurangi ketergantungan impor.

Podewils menilai industri Eropa sebenarnya mampu meningkatkan kapasitas produksi dalam beberapa bulan ke depan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Meski harga inverter buatan Eropa diperkirakan sekitar 2 persen lebih mahal dibanding produk China, biaya tambahan tersebut dinilai sebanding dengan keamanan jangka panjang.

“Ini seperti biaya asuransi,” ujar Podewils, menggambarkan pentingnya perlindungan terhadap risiko gangguan jaringan listrik di masa depan.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image