Atasi Sampah Organik Menumpuk, Mahasiswa Pemberdayaan Masyarakat UNTAG Surabaya Kenalkan Alat Pencacah TIPASO di Dusun Galalo, Gresik
Warta IDN, Gresik
- Selama ini, Tempat Penampungan Sampah (TPS) di Desa Melirang, Dusun Galalo,
Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, lebih sering menjadi lokasi transit sampah
daripada tempat pengolahannya. Setiap harinya, sekitar 50 kilogram sampah masuk
ke TPS tersebut, dan hampir sepertiga di antaranya berupa sampah organik, mulai
dari dedaunan, rumput, hingga sisa sayuran. Karena belum tersedia fasilitas
pengolahan lanjutan, sampah organik itu hanya menumpuk begitu saja.
Melihat
kondisi tersebut, Sub Kelompok 7 Pemberdayaan Masyarakat Universitas 17 Agustus
1945 (Untag) Surabaya menghadirkan inovasi berupa TIPASO (Teknologi Inovasi
Pencacah Sampah Organik) sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah organik
yang lebih efektif dan berkelanjutan pada Rabu (8/7/2026) pukul 09.00 di Cafe
Lowo, Gresik. Program ini merupakan implementasi teknologi tepat guna yang
bertujuan membantu masyarakat mengurangi volume sampah organik sekaligus
meningkatkan nilai guna limbah menjadi bahan baku pupuk kompos.
Cara
kerja TIPASO terbilang sederhana namun cukup efektif. TIPASO bekerja menggunakan motor listrik
berdaya rendah yang menggerakkan enam bilah pisau pencacah berbahan baja.
Sampah organik dimasukkan melalui corong masuk, kemudian dicacah hingga menjadi
potongan-potongan kecil sebelum keluar melalui saluran keluaran. Ukuran yang
lebih kecil ini mempermudah sampah mengalami proses penguraian oleh
mikroorganisme yang dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan jika sampah
dibiarkan menumpuk tanpa diolah. Dengan kapasitas sekitar 5–10 kilogram per
jam, alat ini mampu mengolah berbagai jenis sampah organik, seperti daun
kering, rumput, sisa sayuran, maupun limbah tanaman lainnya. TIPASO memiliki
desain yang ringkas, TIPASO juga dirancang hemat energi sehingga cukup
menggunakan aliran listrik rumah tangga dan tidak memerlukan biaya perawatan
yang tinggi.
Selama
kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan
pelatihan. Mereka juga diberikan kesempatan untuk mencoba mengoperasikan TIPASO
secara langsung menggunakan sampah organik yang berasal dari TPS. Hasil
pencacahan menunjukkan ukuran material yang lebih kecil dan seragam sehingga
lebih mudah diproses menjadi pupuk kompos. Demonstrasi tersebut memberikan
pemahaman kepada masyarakat bahwa sampah organik yang sebelumnya dianggap tidak
memiliki nilai dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Program
ini tidak sekadar menyerahkan alat kepada warga, tetapi juga disertai
pendampingan agar manfaatnya berkelanjutan. Sub Kelompok 7 mengajak pengurus
Karang Taruna Dusun Galalo untuk belajar langsung mengenai cara pengoperasian,
prosedur penggunaan, hingga perawatan dasar TIPASO. Harapannya agar mampu
mengelola dan menjalankan alat ini secara mandiri setelah masa Pemberdayaan
Masyarakat berakhir, sehingga program tidak berhenti begitu mahasiswa
meninggalkan lokasi. Apabila dikelola secara konsisten, hasil cacahan dari
TIPASO berpotensi diolah lebih lanjut menjadi pupuk kompos yang bisa
dimanfaatkan warga untuk kebutuhan pertanian maupun perkebunan skala rumah
tangga. Sampah organik yang semula dianggap tidak berguna pun berpeluang
berubah menjadi sumber daya yang bernilai bagi masyarakat Dusun Galalo.
Kehadiran
TIPASO diharapkan dapat membantu menekan volume sampah organik yang menumpuk di
TPS, sekaligus mempermudah tahap pengolahan berikutnya menjadi kompos. Hasil
cacahan tersebut berpeluang menjadi bahan baku pupuk yang mendukung aktivitas
pertanian dan perkebunan warga, sehingga inovasi sederhana ini pun dapat
memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi Dusun Galalo. Oleh karena itu,
Karang Taruna dan kelompok masyarakat diberikan pelatihan mengenai prosedur
penggunaan, keselamatan kerja, perawatan alat, hingga mekanisme pemanfaatan
hasil cacahan menjadi pupuk kompos.
Melalui
penerapan TIPASO, Sub Kelompok 7 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya berharap
dapat membantu mengurangi volume sampah organik yang menumpuk di TPS Dusun
Galalo sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan
sampah berbasis teknologi tepat guna. Selain itu, melalui pendampingan tersebut
masyarakat diharapkan mampu mengoperasikan TIPASO secara mandiri serta
menjadikan pengelolaan sampah sebagai kegiatan rutin yang memberikan manfaat
bagi lingkungan maupun sektor pertanian desa. Inovasi ini diharapkan menjadi
langkah awal dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah organik yang lebih
efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sehingga mampu memberikan manfaat
nyata bagi masyarakat Desa Melirang dalam jangka panjang.
Penulis :
Devita
Permatasari
Mahasiswa
Fakultas Psikologi - Prodi Psikologi
Program
Pemberdayaan Masyarakat R-15 Desa Melirang Sub Kelompok 7
Universitas
17 Agustus 1945 Surabaya
