Pelatihan Sterilisasi dengan Panci Presto Dorong UMKM MP-ASI Tingkatkan Keamanan Produk
| Figure 1: Pemaparan pentingnya menjaga keamanan produk |
Penulis: Anna Abdilla, Destiana Adinda Putri, dan Virdha Rahma Aulia
Batu, Jawa Timur – Meningkatnya kesadaran masyarakat
terhadap pemenuhan gizi anak mendorong berkembangnya berbagai produk Makanan
Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang diproduksi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM). Namun, di balik tingginya permintaan tersebut, aspek keamanan
pangan menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan. MP-ASI merupakan pangan
yang dikonsumsi oleh bayi dan balita, kelompok yang memiliki sistem kekebalan
tubuh belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan terhadap risiko penyakit
akibat pangan yang tidak aman. Oleh karena itu, penerapan teknologi pengolahan
yang tepat menjadi salah satu langkah penting untuk menjamin keamanan dan mutu
produk.
Sebagai bentuk kontribusi dalam meningkatkan kapasitas UMKM pangan, tim dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur menyelenggarakan pelatihan penggunaan panci presto sebagai alternatif teknologi sterilisasi termal bagi UMKM Petite Plates di Kota Batu. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai pentingnya pengendalian proses pengolahan dalam menghasilkan produk MP-ASI yang aman, berkualitas, dan memiliki daya saing.
Pada kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar keamanan pangan, prinsip sterilisasi termal, serta pentingnya pengendalian suhu dan waktu pemanasan selama proses produksi. Tim pengabdian juga menjelaskan perbedaan antara proses pasteurisasi dan sterilisasi, serta risiko mikrobiologis yang dapat muncul apabila proses pengolahan tidak dilakukan sesuai standar.
Materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan panci presto
sebagai alternatif teknologi sterilisasi yang lebih mudah diakses oleh UMKM.
Dibandingkan peralatan sterilisasi komersial yang membutuhkan investasi cukup
besar, panci presto menjadi salah satu pilihan teknologi tepat guna yang dapat
membantu pelaku usaha memahami prinsip sterilisasi termal dengan biaya yang
lebih terjangkau. Peserta diajak mempraktikkan setiap tahapan penggunaan alat,
mulai dari persiapan produk, pengaturan jumlah air, penyusunan kemasan, hingga
pengendalian tekanan dan waktu pemanasan.
Selain praktik penggunaan alat, tim pengabdian juga menekankan pentingnya
pencatatan parameter proses sebagai bagian dari penerapan Cara Produksi Pangan
Olahan yang Baik (CPPOB). Dokumentasi suhu, waktu pemanasan, dan nomor batch
produksi menjadi langkah awal dalam membangun sistem penjaminan mutu yang dapat
meningkatkan konsistensi kualitas produk serta memudahkan proses penelusuran
apabila terjadi permasalahan pada produk.
| Figure 2: Praktik strerilisasi produk pangan dengan panci presto |
"Teknologi yang baik harus diikuti dengan
pemahaman yang baik pula. Melalui pelatihan ini kami ingin membangun kesadaran
bahwa keamanan pangan tidak hanya ditentukan oleh bahan baku yang berkualitas,
tetapi juga oleh proses produksi yang terkendali. Dengan memahami prinsip
sterilisasi dan pengendalian proses, UMKM dapat menghasilkan MP-ASI yang lebih
aman bagi konsumen," ujar Ketua Tim Pengabdian.
Pelaku UMKM Petite Plates menyambut positif kegiatan tersebut karena
memberikan wawasan baru mengenai teknologi pengolahan yang sebelumnya belum
banyak diterapkan dalam proses produksi sehari-hari. Selain meningkatkan
keterampilan teknis, pelatihan ini juga membuka pemahaman mengenai pentingnya
penerapan standar keamanan pangan sebagai investasi jangka panjang dalam
membangun kepercayaan konsumen.
Sinergi antara perguruan tinggi dan UMKM seperti ini diharapkan dapat terus berkembang untuk mendukung peningkatan kualitas produk pangan lokal. Melalui pendampingan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, pelaku usaha tidak hanya memperoleh solusi yang aplikatif, tetapi juga memiliki kesiapan yang lebih baik dalam memenuhi standar keamanan pangan, memperluas akses pasar, serta meningkatkan daya saing produk di tengah semakin tingginya tuntutan konsumen terhadap pangan yang aman dan berkualitas.