Menakar Pilihan Petani Bangun Harjo: Antara Bibit Lokal dan Tantangan Varietas Unggul di Lahan Kapuas
.jpeg)
Wilayah pertanian Desa Bangun Harjo (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Oleh: Nor Afivi & Adinda Dewi Laras Saputri
KAPUAS - Sektor pertanian tetap menjadi tumpuan utama kehidupan sebagian besar masyarakat di Desa Bangun Harjo, Kecamatan Bataguh. Di balik aktivitas bertani yang rutin dilakukan setiap musim, tersimpan cerita menarik mengenai strategi, tantangan alam, serta pertimbangan para petani dalam menentukan jenis bibit padi yang mereka tanam demi mengamankan hasil panen.
Karakteristik Lahan dan Tantangan Alam di Kapuas
Berbeda dengan wilayah lain seperti di Pulau Jawa yang sistem irigasinya umumnya sudah tertata dan airnya dapat diatur dengan mudah, kondisi pertanian di Kalimantan memiliki dinamika alam yang khas. Air di wilayah ini sangat bergantung pada alam dan pengaturan pasang surut.
Menurut Bapak Sugimin, salah satu petani setempat, kondisi sawah di Desa Bangun Harjo bisa sangat kering tanpa kendala saat musim tertentu, namun bisa langsung terendam air saat hujan deras turun. Selain faktor air, para petani juga dihadapkan pada ancaman serangan hama tanaman seperti walang sangit dan wereng yang diatasi menggunakan obat pertanian khusus.
Dilema Pemilihan Benih: Bibit Lokal versus Varietas Unggul (IR)
Dalam menentukan musim tanam, petani di Bangun Harjo dihadapkan pada pilihan antara menggunakan bibit lokal, seperti beras Banjar atau Anjir, atau varietas unggul. Dalam praktiknya, banyak petani kerap mengambil dua jenis bibit sekaligus, namun varietas lokal masih menjadi andalan utama.
Alasan Petani Memilih Bibit Lokal
Mayoritas petani lebih memilih bibit lokal karena dinilai memberikan hasil yang lebih tinggi dan lebih aman dari risiko tenggelam saat musim hujan tiba.
Dari segi perawatan, bibit lokal dinilai jauh lebih praktis. Petani tinggal menanam, memberikan pupuk pada waktu tertentu, hingga akhirnya tiba masa panen tanpa harus melakukan pengecekan intensif setiap hari.
Tantangan Menggunakan Varietas Unggul (IR)
Di sisi lain, penggunaan bibit unggul atau varietas IR memiliki tantangan tersendiri bagi petani di lapangan.
Menurut Bapak Surono, perawatan bibit unggul digambarkan selayaknya "merawat bayi", membutuhkan biaya yang lebih besar serta menuntut petani untuk sering turun langsung menengok sawah, bahkan hingga malam hari.
Varietas unggul juga membutuhkan suplai air yang lebih pasti. Jika air belum datang atau tidak sesuai jadwal, penanaman bisa menjadi kacau.
Selain itu, harga pembelian bibit unggul atau varietas hibrida di kisaran kelompok tani juga tergolong mahal. Misalnya, pembelian beberapa kilogram bisa mencapai ratusan ribu rupiah, sehingga jika gagal panen, kerugian yang ditanggung petani menjadi sangat besar.
Dinamika Bantuan Pemerintah dan Kelompok Tani
Dalam praktiknya, program bantuan atau penyuluhan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) turut mewarnai aktivitas pertanian di desa. Kendati demikian, para petani kerap menemui kendala di lapangan.
Teori yang diberikan dalam program sering kali berbeda dengan realitas kondisi di lapangan, mengingat karakteristik lahan rawa memiliki tantangan spesifik.
Selain itu, terdapat kendala dalam distribusi bantuan atau subsidi yang dirasakan tidak selalu merata bagi seluruh petani, terutama bagi mereka yang menggarap lahan dengan kapasitas modal terbatas.
Meski demikian, berkat pengalaman turun-temurun dan kearifan lokal dalam mengelola lahan pasang surut, para petani di Desa Bangun Harjo terus bertahan dan berjuang menjaga produktivitas sektor pertanian demi kelangsungan ketahanan pangan di Kabupaten Kapuas.