Siswi Binaan Algoritma Scientist Raih Juara 2 Kompetisi Bisnis Global
![]() |
| Algoritma Scientist |
Warta IDN, Jakarta - Keputusan bisnis tidak selalu selesai di meja hukum. Dalam kompetisi studi kasus bisnis internasional The Essai Casebook 2026, Annisa Amalia, siswi kelas XII SMA Negeri 15 Jakarta binaan Algoritma Scientist, menunjukkan bagaimana persoalan reputasi dan kepentingan komunitas dapat memengaruhi arah sebuah perusahaan.
Annisa masuk jajaran Top 5 Winners dan meraih Juara 2 pada track Luxury Fashion. Prestasi ini menjadi gambaran bagaimana pelajar dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, membaca data, dan menyusun rekomendasi yang bisa diterapkan untuk menghadapi persoalan bisnis.
Bukan Sekadar Lomba Menulis Esai
The Essai Casebook merupakan kompetisi studi kasus bisnis yang diselenggarakan Essai Education. Berbeda dari lomba esai pada umumnya, peserta dihadapkan pada kasus perusahaan yang memuat konteks, angka, serta batasan tertentu, lalu diminta memilih dan mempertahankan satu rekomendasi.
Tahun ini, kompetisi tersebut menghadirkan tiga kategori atau track, yakni Electric Vehicles, Digital Media, dan Luxury Fashion. Peserta berusia 13–18 tahun dari berbagai negara dapat mengikuti kompetisi ini secara gratis.
Karya dibatasi maksimal 1.500 kata dengan struktur Situation, Options, dan Recommendation, serta satu lampiran opsional sepanjang satu halaman. Integritas akademik juga menjadi perhatian: plagiarisme di atas 10 persen membuat peserta gugur, sementara karya yang terdeteksi menggunakan kecerdasan buatan (AI) didiskualifikasi.
Panitia menyebut lima peserta teratas, yakni Gautham Vinod, Annisa Amalia, Kozykorpesh Kydyrbek, Dhriti Hablani, dan Vidyut Sundar. Penghargaan diberikan kepada tiga peserta terbaik di setiap kategori.
Membaca Risiko Bisnis di Balik Produk Mewah
Dalam kategori Luxury Fashion, Annisa menganalisis kasus fiktif rumah mode Eropa bernama Aurelia Maison yang telah beroperasi selama 60 tahun dengan omzet sekitar €2,1 miliar.
Perusahaan itu meluncurkan sandal bernama The Solene seharga €890. Desainnya sangat mirip dengan Velora, sandal kulit tenun tangan buatan koperasi pengrajin Kaveri Hills yang telah bersertifikat sejak 2011. Aurelia hanya menyebut produknya terinspirasi bentuk tenun tradisional, tanpa memberikan kredit maupun membuat kontrak dengan komunitas tersebut.
Persoalan kemudian berkembang menjadi krisis reputasi. Federasi yang mewakili sekitar 4.000 penenun menyampaikan keberatan dalam 72 jam, disusul munculnya tagar boikot.
Penjualan yang sempat naik dari 1.140 menjadi 1.960 pasang kemudian turun menjadi 740 pasang. Pada saat yang sama, tingkat retur meningkat dari 4 menjadi 11 persen, dua mitra ritel berhenti memesan ulang, dan sentimen negatif mencapai 38 persen.
Bagi Annisa, inti persoalannya bukan semata-mata apakah perusahaan melanggar hukum, melainkan bagaimana risiko reputasi dapat berkembang menjadi kerugian bisnis meski posisi hukumnya relatif kuat.
“Buatku ini bukan soal ‘Aurelia salah atau nggak secara hukum’,” jelasnya. “Tim legalnya sendiri bilang risikonya rendah sampai menengah. Tapi justru itu jebakannya. Hukum dan reputasi jalannya nggak searah. Secara hukum Aurelia relatif aman, tapi secara bisnis kerugiannya udah kejadian.”
Memilih Jalan Pemulihan, Bukan Sekadar Bertahan
Annisa menilai kasus tersebut berbeda dari persoalan sebelumnya yang dihadapi Aurelia. Kali ini, komunitas pengrajin memiliki sertifikasi, federasi yang terorganisasi, serta kemampuan menyampaikan tuntutan kepada media.
“Dulu mereka ambil teknik dari komunitas yang nggak punya sertifikasi dan nggak punya suara buat membalas. Kali ini yang dihadapi komunitas yang punya sertifikat, punya federasi, dan bisa ngomong ke media dalam 72 jam. Pola lama itu udah nggak aman lagi,” ujarnya.
Dalam analisisnya, Annisa mempertimbangkan tiga pilihan bagi Aurelia: meminta maaf dan bernegosiasi, menarik desain secara diam-diam, atau bertahan dengan alasan bahwa desain tersebut dibuat secara independen.
Ketiganya memiliki konsekuensi. Karena itu, ia tidak hanya menilai risiko hukum, tetapi juga mempertimbangkan dampak terhadap reputasi perusahaan, hubungan dengan mitra ritel, dan peluang memulihkan kepercayaan komunitas.
“Tiga-tiganya punya harga,” kata Annisa. “Yang kutanyain bukan mana yang paling aman secara hukum, tapi harga mana yang paling bisa dibayar Aurelia dan paling bisa dipulihkan.”
Ia memilih opsi pertama, yakni meminta maaf dan membuka negosiasi dengan komunitas pengrajin. Salah satu pertimbangannya adalah adanya kasus pembanding ketika permintaan maaf cepat dan peluncuran koleksi kapsul bersama komunitas asal membantu memulihkan sentimen dalam sekitar dua bulan.
Sebaliknya, penarikan desain secara diam-diam dinilai tidak menjawab tuntutan federasi. Mempertahankan posisi perusahaan juga berisiko memperpanjang konflik dengan ribuan penenun, memicu dampak boikot, serta menghadapi perhatian kementerian.
“Posisi hukum yang kuat itu cukup dipakai buat menjaga isi pernyataan supaya nggak salah ngomong,” tambahnya. “Bukan buat nentuin strategi.”
Rencana Lima Minggu dengan Target Terukur
Rekomendasi Annisa tidak berhenti pada pilihan meminta maaf. Ia menyusun rencana pemulihan selama lima minggu dengan mempertimbangkan siklus produksi perusahaan yang sudah terkunci.
Pada minggu pertama, CEO Aurelia menghubungi federasi dan menyampaikan permintaan maaf yang secara spesifik menyebut Kaveri Hills dan produk Velora.
Minggu kedua hingga keempat diarahkan untuk merundingkan kredit, royalti, dan dana kesejahteraan pengrajin. Pada periode yang sama, direktur kreatif memimpin pengembangan koleksi kapsul bersama komunitas.
Memasuki minggu kelima, perjanjian tertulis ditargetkan selesai sebelum produksi dikunci.
Keberhasilan strategi itu juga dirumuskan melalui sejumlah ukuran. Annisa menargetkan sentimen negatif turun dari 38 persen menjadi di bawah 20 persen dalam sekitar dua bulan, tingkat retur kembali ke sekitar 4 persen, dua mitra ritel kembali memesan, dan penjualan pulih ke sekitar 1.140 unit per minggu.
Pendekatan ini memperlihatkan pentingnya menghubungkan analisis dengan pelaksanaan. Rekomendasi bisnis bukan hanya harus masuk akal di atas kertas, tetapi juga memiliki tahapan, pihak yang bertanggung jawab, dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Algoritma Scientist Menekankan Cara Berpikir
Founder Algoritma Scientist, Febri Prapaskah Rino, menilai kekuatan analisis Annisa terletak pada proses berpikir yang mendasari rekomendasinya.
“Yang kami lihat bukan cuma hasil akhirnya, tapi cara dia mikir,” katanya. “Dia nggak berhenti di ‘minta maaf aja’, tapi ngebedain dulu mana soal hukum dan mana soal reputasi, terus kasih rencana per minggu dan ukuran suksesnya. Itu yang bikin rekomendasinya terasa bisa dijalankan.”
Menurut Febri, kompetisi berbasis studi kasus membantu pelajar belajar mengambil keputusan dengan mempertimbangkan data dan konsekuensi. Kemampuan tersebut, kata dia, berguna bukan hanya dalam riset, tetapi juga saat menempuh pendidikan tinggi dan memasuki dunia kerja.
“Anak-anak sering dilatih menghafal jawaban. Di sini mereka belajar menimbang, memilih, lalu mempertanggungjawabkan pilihannya. Skill ini kepake di riset, kuliah, sampai dunia kerja.”
Bagi ekosistem pendidikan, pengalaman seperti ini memberi ruang bagi pelajar untuk berlatih menghadapi persoalan yang tidak selalu memiliki satu jawaban benar. Mereka dituntut menyusun argumen, membaca risiko, dan menjelaskan alasan di balik keputusan.
Membuka Akses Pendampingan Riset bagi Pelajar
Algoritma Scientist merupakan komunitas pendidikan STEM dan riset pelajar di Indonesia yang terafiliasi dengan MILSET Asia. Komunitas ini berfokus pada metodologi ilmiah dan literasi riset internasional, sekaligus mendampingi pelajar mengembangkan ide hingga menyajikan hasilnya melalui kompetisi karya tulis dan penelitian.
Komunitas tersebut juga membuka layanan peninjauan ide dan proposal secara gratis bagi pelajar yang ingin mengikuti kompetisi penelitian, termasuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2027.
“Kalau ada pelajar yang punya ide tapi bingung mulai dari mana, kirim aja ke kami,” ajak Febri. “Nggak harus udah rapi. Yang penting berani mulai, sisanya kita poles bareng.”
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs algoritmascientist.com, Instagram dan Threads @algoritmascientist, atau email contact@algoritmascientist.com. Algoritma Scientist juga menyediakan layanan komunikasi melalui WhatsApp resmi di 0895-3513-25857.
Prestasi Annisa menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga bagaimana pengetahuan itu digunakan untuk menimbang pilihan dan memahami dampaknya. Bagi pelajar Indonesia, ruang berlatih seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun keberanian berpikir mandiri dan kesiapan menghadapi persoalan nyata.
