Satgas Bencana Gampong Juli Bireuen Diperkuat Sistem Peringatan Dini, Koordinasi Darurat Kini Lebih Terstruktur
| Foto: Kegiatan Mahasiswa untuk Patok Tiang Lampu Solar |
Warta IDN, Aceh — Satgas Bencana Gampong Juli Meunasah Teungoh, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, kini memiliki sistem peringatan dini banjir yang beroperasi di titik-titik rawan di sekitar gampong. Sistem tersebut dipasang oleh mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh dalam kegiatan pendampingan yang berlangsung sejak akhir Januari hingga awal April 2026.
Satgas yang beranggotakan 33 orang dan berpusat di Dusun Blang Timu ini sebelumnya belum memiliki alat untuk mendeteksi kenaikan air lebih awal. Ketika banjir November 2025 datang, koordinasi antar anggota masih dilakukan secara manual — mendatangi rumah warga satu per satu di tengah malam. Tidak ada alur yang jelas, tidak ada pembagian tugas yang tertib.
Mus Muliadi, Ketua Satgas Bencana Gampong Juli Meunasah Teungoh, mengakui bahwa kondisi itu membuat respons tim menjadi lambat.
"Kami punya anggota, kami punya semangat. Tapi tanpa alat dan prosedur yang jelas, semua itu tidak cukup. Waktu banjir November kemarin, kami kewalahan karena tidak ada sistem yang bisa diandalkan," ujarnya.
Mahasiswa hadir secara bertahap sejak akhir Januari 2026. Tim awal turun lebih dulu untuk berkoordinasi dengan Satgas dan perangkat gampong sebelum kegiatan dimulai. Pemasangan sistem peringatan dini dilakukan di titik-titik yang ditentukan bersama anggota Satgas — memanfaatkan pengetahuan lapangan mereka tentang pola banjir di gampong.
Sosialisasi kepada Satgas dan Pageu Gampong dilakukan secara bertahap. Selain pertemuan resmi, penjelasan tentang cara membaca tanda peringatan dan alur respons juga disampaikan langsung di lapangan selama proses pemasangan berlangsung. Latihan kesiapsiagaan digelar secara bertahap pula — dimulai dari pengenalan prosedur dalam kelompok kecil, kemudian berkembang melibatkan lebih banyak warga.
Pageu Gampong di Dusun Kayee Adang yang diketuai M. Yusuf turut dilibatkan dalam setiap tahapan, sehingga koordinasi antara dua kelompok ini menjadi lebih terstruktur. Peta risiko bencana gampong juga disusun bersama sebagai panduan kerja ke depan, dan prosedur evakuasi resmi disahkan oleh Keuchik.
Foto: Kegiatan Mahasiswa dan Masyarakat pemasangan Alat Deteksi Banjir
Di sela kegiatan teknis, mahasiswa bersama Satgas dan warga menggelar gotong royong sosial — membersihkan lingkungan dan membenahi area sekitar titik kumpul evakuasi. Koordinasi lanjutan juga dilakukan bersama BPBD Kabupaten Bireuen.
"Sekarang kami punya alat, punya prosedur, dan punya latihan. Kalau banjir datang lagi, kami tidak akan bergerak bingung seperti dulu," kata Mus Muliadi.
Fauzan Putraga Al Bahri, dosen anggota tim pelaksana yang menangani pelatihan dan pendampingan sosial, menyebut perubahan cara kerja Satgas sebagai capaian yang paling berarti dari kegiatan ini.
"Alat bisa rusak, bisa diganti. Tapi kalau Satgas sudah punya kebiasaan kerja yang tertib — cek alat, latihan rutin, koordinasi yang jelas — itu yang akan bertahan jauh lebih lama," ujarnya.