Digitalisasi Kain Gambo Muba Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Global
![]() |
| Tim PkM dan peserta berfoto bersama dalam sosialisasi digitalisasi Kain Gambo Muba untuk pelestarian budaya. |
MUSI BANYUASIN, 2026 – Kain Gambo Muba terus didorong untuk tidak hanya menjadi warisan budaya lokal, tetapi juga berkembang sebagai produk bernilai ekonomi yang mampu menjangkau pasar lebih luas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pemanfaatan teknologi digital dalam pelestarian, pengenalan, promosi, hingga pengembangan potensi ekonomi Kain Gambo khas Musi Banyuasin.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Digitalisasi Kain Gambo Muba Sebagai Upaya Pelestarian Seni Budaya Musi Banyuasin Dalam Peningkatan Ekonomi Pasar Global.”
Program ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi perubahan pola promosi dan pemasaran di era digital. Pelaksanaannya didukung pendanaan melalui Program Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dan/atau skema pengabdian melalui platform BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Kain Gambo Muba memiliki karakter dan identitas yang erat dengan kekayaan budaya Musi Banyuasin. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen, keberadaan produk budaya membutuhkan strategi baru agar semakin dikenal, khususnya oleh generasi muda dan masyarakat di luar daerah.
Digitalisasi menjadi salah satu pendekatan yang dinilai dapat mempertemukan nilai tradisional dengan kebutuhan pasar modern.
Melalui teknologi digital, informasi mengenai Kain Gambo dapat dikemas dan disebarluaskan dengan jangkauan yang lebih luas. Dokumentasi produk, pengenalan nilai budaya, promosi, serta pemasaran dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media dan platform digital.
Dengan demikian, teknologi tidak hanya digunakan sebagai alat promosi, tetapi juga menjadi sarana untuk membantu menjaga keberadaan dan memperkenalkan identitas budaya kepada generasi berikutnya.
Kegiatan PkM ini diketuai Dian Ofasari, S.E., M.Si., bersama anggota tim Selvita Meilansari, S.E., M.Si. dan Yusniari, M.Kom.
Program tersebut turut melibatkan mahasiswa dari sejumlah jurusan. Mereka adalah M. Zahran Mutahsim dan Alya Melani Putri dari Jurusan Manajemen Informatika serta Shena Putri Rahmadina dari Jurusan Akuntansi.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam membangun kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat. Pengetahuan di bidang teknologi dapat diarahkan untuk mendukung proses digitalisasi, sedangkan pemahaman mengenai ekonomi dan akuntansi dapat menjadi bagian dari upaya melihat peluang pengembangan produk budaya sebagai sumber nilai ekonomi.
Kolaborasi tersebut sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.
Rangkaian program diawali dengan kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada 22 dan 23 Mei 2026.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya mempertahankan identitas budaya lokal sekaligus menyesuaikan strategi pengenalan produk dengan perkembangan teknologi.
Sosialisasi juga menjadi momentum untuk memperkenalkan peluang pemanfaatan media digital dalam mendokumentasikan dan mempromosikan Kain Gambo Muba.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat informasi mengenai Kain Gambo lebih mudah ditemukan dan dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Tidak berhenti pada aspek budaya, kegiatan juga menyoroti potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari produk tersebut. Pengelolaan dan promosi yang lebih baik dinilai dapat meningkatkan nilai tambah Kain Gambo sekaligus membuka peluang pemasaran di luar wilayah Musi Banyuasin.
Setelah sosialisasi, program berlanjut dengan Pelatihan Digitalisasi pada 20 dan 21 Juli 2026.
Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan pemahaman serta keterampilan peserta dalam memanfaatkan teknologi digital. Peserta diperkenalkan pada pemanfaatan media digital untuk kebutuhan dokumentasi, penyampaian informasi, promosi, dan pemasaran.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pelaku Kain Gambo beradaptasi dengan perkembangan pasar yang semakin terhubung melalui teknologi.
Digitalisasi juga membuka kesempatan bagi produk lokal untuk tidak hanya dikenal di lingkungan masyarakat sekitar, tetapi berpotensi diperkenalkan kepada konsumen di tingkat nasional bahkan internasional.
Ketua tim PkM, Dian Ofasari, S.E., M.Si., menekankan bahwa digitalisasi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar penggunaan teknologi.
Menurutnya, teknologi dapat menjadi sarana untuk menjaga keberadaan budaya sekaligus memperkenalkan nilai-nilai tradisional kepada generasi selanjutnya.
“Digitalisasi bukan hanya tentang penggunaan teknologi, tetapi juga menjadi salah satu upaya untuk menjaga, mengenalkan, dan meneruskan nilai budaya kepada generasi berikutnya. Melalui pemanfaatan teknologi digital, Kain Gambo Muba diharapkan semakin dikenal dan memiliki peluang yang lebih besar untuk menembus pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai budaya dan inovasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Kain Gambo Muba memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk budaya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga nilai ekonomi.
Pemanfaatan teknologi dapat membantu memperluas akses pasar sekaligus memperkenalkan cerita, karakter, dan identitas Kain Gambo kepada calon konsumen.
Jika dilakukan secara berkelanjutan, digitalisasi dapat menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Kehadiran generasi muda dalam proses tersebut juga menjadi modal penting. Mereka dapat berperan sebagai penghubung antara kekayaan budaya tradisional dengan cara komunikasi dan pemasaran yang berkembang di ruang digital.
Program Digitalisasi Kain Gambo Muba diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi dan pelatihan. Program ini menjadi salah satu langkah awal untuk mendorong keberlanjutan pelestarian budaya sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
Dukungan pendanaan melalui BIMA Kemdiktisaintek, kolaborasi dosen dan mahasiswa, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari proses tersebut.
Ke depan, Kain Gambo Muba diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu identitas budaya Musi Banyuasin yang memiliki karakter khas sekaligus potensi ekonomi.
Pemanfaatan teknologi digital memberikan peluang bagi Kain Gambo untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dari produk budaya yang tumbuh di daerah, Kain Gambo diharapkan dapat berkembang menjadi produk yang dikenal di tingkat nasional dan memiliki kesempatan memasuki pasar global.
Melalui kolaborasi antara budaya, pendidikan, teknologi, dan ekonomi, pelestarian Kain Gambo Muba diharapkan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Tim pelaksana menyampaikan apresiasi kepada BIMA Kemdiktisaintek atas dukungan pendanaan yang memungkinkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut terlaksana. Dukungan ini diharapkan terus mendorong lahirnya berbagai inovasi perguruan tinggi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga kekayaan seni dan budaya Indonesia.
