Kelompok 274 KKN UNS Berdayakan Warga Dusun Niru, Desa Ngadirojo Kidul Lewat Pengolahan Limbah Minyak Jelantah
![]() |
| Dokumentasi kegiatan kelompok 274 KKN UNS lewat pengolahan limbah minyak jelantah (Sumber: Dokumentasi Pribadi) |
WONOGIRI - Hingga saat ini, pengelolaan limbah minyak goreng bekas (minyak jelantah) masih menjadi permasalahan bagi rumah tangga di wilayah sasaran. Minyak jelantah dapat masuk ke dalam sistem perairan ketika dibuang langsung ke saluran air, sehingga mencemari suatu ekosistem maupun lingkungan. Menanggapi permasalahan tersebut, mahasiswa Kelompok 274 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan dua program pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada pengolahan limbah minyak jelantah di Dusun Niru, Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri pada tanggal 27 Juli 2026.
Kegiatan yang menyasar ibu-ibu PKK setempat ini mendapat bimbingan langsung dari Bapak Agus Ramelan, S.Pd., M.T. selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Program pertama bertajuk "Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring Ramah Lingkungan sebagai Upaya Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Rumah Tangga", sedangkan program kedua berfokus pada "Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah sebagai Solusi Ekologis dan Ekonomis".
Inisiatif ini dilaksanakan guna mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui pelatihan ini, limbah yang tadinya dianggap remeh dapat diubah menjadi produk fungsional dan bernilai jual.
Natya Laksita selaku ketua pelaksana KKN UNS Kelompok 274, menjelaskan bahwa pemilihan program berbasis pengolahan limbah minyak jelantah ini didasari oleh perhatian tim terhadap kebiasaan pembuangan limbah rumah tangga serta potensi ekonomi lokal yang belum tergarap optimal di Dusun Niru.
"Minyak jelantah sering kali dianggap sebagai limbah tak berguna yang berpotensi merusak lingkungan jika dibuang sembarangan. Melalui pelatihan ini, kami ingin mengubah persepsi tersebut dengan membuktikan bahwa limbah rumah tangga justru bisa diolah menjadi produk bernilai guna dan berpotensi menghasilkan nilai tambah secara ekonomis," ungkap Natya Laksita.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan aktif dan antusiasme ibu-ibu PKK menjadi kunci utama keberhasilan seluruh rangkaian kegiatan.
"Kami sangat mengapresiasi semangat belajar ibu-ibu PKK Dusun Niru selama pelatihan berlangsung. Harapan kami, keterampilan pembuatan sabun dan lilin aromaterapi ini tidak berhenti di ruang pelatihan saja, tetapi benar-benar dipraktikkan secara konsisten di rumah, bahkan dikembangkan menjadi rintisan UMKM baru di desa," pungkasnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi sosialisasi interaktif mengenai dampak buruk pembuangan minyak jelantah secara sembarangan terhadap sanitasi lingkungan, sekaligus memaparkan potensi pengolahannya menjadi produk bernilai guna.
Memasuki sesi praktik, sebanyak 39 ibu-ibu PKK diajak mengikuti dua tahapan pelatihan secara langsung. Pada pelatihan pertama, peserta dibimbing mempraktikkan proses pembuatan sabun cuci piring ramah lingkungan berbahan dasar minyak jelantah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan kedua, yakni pembuatan lilin aromaterapi yang mengombinasikan minyak jelantah daur ulang dengan essential oil hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai estetika.
Sebagai penutup rangkaian acara, tim mahasiswa memberikan materi pembekalan analisis usaha sederhana berupa tata cara perhitungan Break Even Point (BEP), sekaligus pembagian produk berupa lilin aromaterapi dan sabun cuci piring kepada ibu-ibu PKK. Melalui simulasi perhitungan modal dan proyeksi harga jual ini, ibu-ibu PKK dapat memahami secara konkret gambaran potensi keuntungan ekonomi apabila produk sabun cuci piring maupun lilin aromaterapi tersebut dikembangkan menjadi usaha rintisan di tingkat rumah tangga.
Efektivitas dan dampak nyata dari pelatihan ini terukur secara kuantitatif melalui survei evaluasi pasca-kegiatan yang diisi oleh 25 peserta. Sebanyak setengah total peserta (56%) cukup memahami materi sabun cuci piring dan lilin aromaterapi, sedangkan sisanya (44%) sangat memahami materi. Sebanyak 64% peserta cukup memahami materi pengolahan minyak jelantah, sedangkan 32% peserta merasa sangat memahami materinya. Lalu sebanyak 68% peserta merasa cukup memahami materi BEP, sedangkan sebanyak 24% peserta sangat memahami materinya. Sebanyak 80% peserta merasa dapat membuat lilin dan 64% peserta merasa dapat membuat sabun secara mandiri dengan melihat brosur, sedangkan 20% dan 28% peserta lainnya bisa membuat tanpa melihat brosur.
Tingginya pemahaman tersebut berbanding terbalik dengan minat keberlanjutan warga untuk usaha UMKM. Berdasarkan hasil olah data survei pada Grafik 1, sebanyak 44% peserta menyatakan tertarik untuk membuat lilin aromaterapi untuk pribadi, dan sebanyak 40% peserta tertarik untuk menjadikan produk lilin aromaterapi sebagai usaha UMKM sampingan. Sementara untuk produk sabun cuci piring, 28% peserta berminat memanfaatkannya sebagai peluang bisnis baru, dan 48% berencana memproduksinya secara mandiri demi menghemat belanja harian.
Respons positif dan apresiasi disampaikan langsung oleh salah satu peserta pelatihan, Ibu Sri Suratmi, yang merasa kegiatan ini memberikan wawasan baru yang sangat bermanfaat. "Saya sangat menyukai kegiatan ini dan berharap di lain waktu ada pelatihan seperti ini lagi demi kemajuan ibu-ibu PKK," tuturnya. Antusiasme senada juga diungkapkan oleh peserta lainnya yang berharap agar ilmu serta keterampilan yang telah dibagikan oleh tim mahasiswa KKN UNS dapat terus diterapkan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat.
Melalui eksekusi kedua program kerja ini, tim mahasiswa KKN UNS berharap masyarakat Dusun Niru, Desa Ngadirojo Kidul dapat semakin bijak dan cermat dalam mengelola limbah rumah tangga harian. Tidak hanya berhenti pada edukasi lingkungan, inovasi pra-praktik ini diharapkan mampu memantik semangat kewirausahaan warga untuk membuka peluang usaha baru berbasis produk daur ulang. Ke depannya, sinergi ini ditargetkan menjadi pendorong terciptanya kemandirian ekonomi desa yang berwawasan lingkungan secara berkelanjutan.
