Polsri Dorong Pembentukan Bank Sampah Warga 27 Ilir melalui Living Lab Sekanak Connect
![]() |
| Tim Polsri bersama warga 27 Ilir mengikuti pelatihan pemilahan sampah dan praktik pembuatan eco-enzyme di Palembang. |
Palembang - Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) melalui Tim Peneliti Living Lab Sekanak Connect kembali memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah di kawasan Sungai Sekanak. Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pemilahan Sampah–2 yang dilaksanakan di Kantor Lurah 27 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang, Minggu (13/9/2026).
Living Lab Sekanak Connect merupakan salah satu penelitian dalam Program BESTARI Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) yang diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Program BESTARI Saintek mendorong penerapan sains dan teknologi secara langsung melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, mitra, dan masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan di lingkungan setempat. Melalui pendekatan living lab, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dilibatkan dalam proses mengenali masalah, mencoba solusi, mengevaluasi hasil, dan menjaga keberlanjutan program.
Kegiatan Pelatihan Pemilahan Sampah–2 merupakan tindak lanjut dari pelatihan tahap pertama yang sebelumnya memberikan pemahaman dasar kepada masyarakat mengenai jenis sampah, cara pemilahan, dan pentingnya mengurangi sampah yang dibuang langsung ke lingkungan dan Sungai Sekanak.
Jika pada tahap pertama masyarakat memperoleh pengetahuan dasar, pada tahap kedua peserta diajak mempraktikkan pemanfaatan sampah organik rumah tangga menjadi eco-enzyme. Peserta juga mulai mengumpulkan sampah anorganik yang telah dipilah untuk disalurkan melalui bank sampah.
Dalam sesi praktik, peserta dibagi menjadi tiga kelompok agar seluruh warga dapat terlibat secara aktif. Setiap kelompok mempersiapkan bahan, memilih sampah organik yang dapat digunakan, serta mengikuti tahapan pembuatan eco-enzyme secara bersama-sama dengan pendampingan tim pelaksana.
Melalui praktik tersebut, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pemanfaatan sisa bahan organik rumah tangga, khususnya kulit buah dan sayuran. Bahan organik dicampurkan dengan air dan sumber gula dalam wadah tertutup untuk menjalani proses fermentasi. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai penyimpanan dan pemantauan selama proses fermentasi agar dapat berjalan dengan baik.
Pembagian peserta menjadi tiga kelompok membuat pelatihan berlangsung lebih aktif dan interaktif. Masyarakat tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi turut mempersiapkan bahan, melakukan pencampuran, membagi tugas, berdiskusi, dan mencoba setiap tahapan pembuatan eco-enzyme secara langsung.
Pendekatan berbasis praktik dipilih agar pengetahuan yang diberikan lebih mudah dipahami dan diterapkan kembali oleh peserta di rumah masing-masing. Cara ini sekaligus memperlihatkan bahwa sampah organik rumah tangga yang selama ini dibuang masih dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.
Selain membuat eco-enzyme, warga mulai membawa dan mengumpulkan sampah rumah tangga yang telah dipilah. Sampah anorganik yang masih mempunyai nilai ekonomi selanjutnya disalurkan melalui bank sampah. Pengumpulan tersebut menjadi salah satu hasil nyata dari pelatihan tahap pertama karena warga mulai menerapkan pemilahan sejak dari rumah.
Dalam tahap awal pelaksanaan, Tim Bank Sampah Kenanga dan Bank Sampah Amanah berperan sebagai fasilitator sementara untuk mendampingi proses pemilahan, pengumpulan, dan penyaluran sampah warga. Pendampingan tersebut diperlukan karena kepengurusan Bank Sampah 27 Ilir belum diresmikan dan belum dapat menjalankan kegiatan operasional secara mandiri.
Bank Sampah Kenanga dan Bank Sampah Amanah juga memberikan pengalaman praktis mengenai jenis sampah yang dapat diterima, cara mempersiapkan sampah sebelum disetorkan, serta mekanisme pengumpulan dan penyaluran sampah. Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masyarakat untuk mengelola bank sampah secara mandiri.
Perkembangan penting lainnya adalah telah tersusunnya nama-nama calon pengurus Bank Sampah 27 Ilir dari unsur masyarakat setempat. Meskipun belum diresmikan, adanya susunan awal calon pengurus menunjukkan tumbuhnya kesiapan masyarakat untuk membangun pengelolaan sampah yang lebih terorganisasi.
Tahapan berikutnya akan diarahkan pada pemantapan susunan kepengurusan, pembagian tugas dan tanggung jawab, penyusunan mekanisme pengumpulan dan pencatatan sampah, serta persiapan kegiatan operasional Bank Sampah 27 Ilir. Selama masa persiapan tersebut, Bank Sampah Kenanga dan Bank Sampah Amanah akan menjadi mitra pendamping agar calon pengurus memahami alur pengelolaan bank sampah sebelum menjalankannya secara mandiri.
Ketua Tim Pelaksana Living Lab Sekanak Connect, Dr. Ir. Nyayu Latifah Husni, S.T., M.T., menjelaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah harus dibangun melalui proses bertahap dan berkelanjutan. Oleh karena itu, masyarakat tidak hanya diberikan pengetahuan, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam pemilahan, pengolahan, pengumpulan, dan penyaluran sampah.
Menurutnya, praktik pembuatan eco-enzyme, pengumpulan sampah terpilah, dan persiapan kepengurusan bank sampah menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat Kelurahan 27 Ilir.
Kegiatan ini juga dirancang agar masyarakat memahami bahwa sampah rumah tangga memerlukan jalur pengelolaan yang berbeda. Sampah organik dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, sedangkan sampah anorganik yang masih mempunyai nilai ekonomi dapat dikumpulkan dan disalurkan melalui bank sampah.
Sosialisasi aplikasi bank sampah Waste for Rewards yang semula direncanakan pada pertemuan tersebut belum sempat dilaksanakan karena waktu kegiatan lebih banyak digunakan untuk praktik pembuatan eco-enzyme. Sosialisasi dan uji coba aplikasi akan dialihkan ke kegiatan lanjutan agar masyarakat memiliki waktu dan pendampingan yang cukup untuk memahami penggunaannya.
Aplikasi Waste for Rewards dipersiapkan sebagai salah satu sarana pendukung dalam pengelolaan bank sampah. Aplikasi tersebut diharapkan dapat membantu proses pendataan, pencatatan, dan pemantauan sampah yang dikumpulkan masyarakat secara lebih terstruktur.
Rangkaian kegiatan Living Lab Sekanak Connect akan dilanjutkan pada Minggu, 20 September 2026. Kegiatan berikutnya akan lebih difokuskan pada praktik pembuatan kompos dari sampah organik rumah tangga dengan menggunakan komposter.
Dalam kegiatan lanjutan tersebut, masyarakat akan diperkenalkan dengan fungsi komposter, jenis sampah organik yang dapat diolah, cara menyiapkan bahan, proses pengisian komposter, serta cara merawat dan memantau proses pengomposan. Peserta juga akan memperoleh pemahaman mengenai perbedaan pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme dan pengolahannya menjadi kompos.
Selain praktik menggunakan komposter, kegiatan tanggal 20 September 2026 juga akan mencakup pemantauan awal proses pembuatan eco-enzyme, evaluasi penerapan pemilahan sampah di rumah, pengumpulan kembali sampah terpilah melalui bank sampah, serta penguatan persiapan calon pengurus Bank Sampah 27 Ilir.
Sosialisasi dan uji coba aplikasi Waste for Rewards juga direncanakan menjadi bagian dari kegiatan lanjutan dengan menyesuaikan waktu dan kesiapan peserta. Calon pengurus bank sampah diharapkan dapat mulai mengenali fungsi aplikasi sebagai pendukung pengelolaan dan pencatatan sampah.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, sampah rumah tangga diarahkan ke tiga jalur pemanfaatan. Sampah organik dapat diolah menjadi eco-enzyme dan kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah.
Kolaborasi antara Polsri, Pemerintah Kelurahan 27 Ilir, Bank Sampah Kenanga, Bank Sampah Amanah, calon pengurus Bank Sampah 27 Ilir, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Melalui Living Lab Sekanak Connect, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami cara memilah sampah, tetapi juga mampu mengolah dan mengelolanya secara rutin. Gerakan yang dimulai dari rumah tersebut diharapkan dapat mengurangi sampah yang berpotensi mencemari lingkungan sekaligus mendukung upaya menjaga kawasan Sungai Sekanak agar lebih bersih dan berkelanjutan.
