WARTA BARU

Tim Pengabdian Dosen Fakultas Ekonomi Untidar Adopsi Nilai TIDAR sebagai Upaya Pembinaan Mental Kewirausahaan bagi Penyandang Disabilitas di Desa Ngablak

Dokumentasi tim pengabdian dosen Fakultas Ekonomi Untidar (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Magelang – Upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat inklusif terus digalakkan. Pada kesempatan ini, Tim Pengabdian Dosen dari Fakultas Ekonomi Untidar menggelar program pembinaan mental kewirausahaan berbasis nilai TIDAR (Tangguh, Integratif, Dedikatif, Aktif, dan Responsif) bagi 17 penyandang disabilitas usia produktif anggota Paguyuban Warsa Mundung di Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 24 Juli 2025. Kegiatan yang dilakukan ini sebagai bentuk kontribusi aktif Untidar melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Harapan Besar bagi Kemandirian Disabilitas

Kegiatan ini sebagai bentuk keberlanjutan kemitraan yang telah terjalin antara tim akademisi dan masyarakat setempat. Pada saat sambutan, Pak Kasihan selaku Ketua Paguyuban Warsa Mundung mengungkapkan harapan besarnya supaya kegiatan pembinaan ini menjadi pijakan awal bagi para penyandang disabilitas di komunitasnya untuk terus meningkatkan kapasitas diri sehingga dapat berdaya secara ekonomi melalui kewirausahaan.

Langkah awal pembinaan dimulai dengan pengisian pre-test untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman awal para peserta. Guna memastikan seluruh peserta dapat berpartisipasi, tim pengabdian memberikan pendampingan secara personal, seperti membacakan dan menjelaskan skenario soal bagi peserta yang membutuhkan.

Membangun Karakter Wirausahawan Sukses Melalui Nilai TIDAR

Memasuki sesi utama, Bapak Satrio selaku narasumber menyampaikan materi secara interaktif dengan mengaitkan kelima nilai TIDAR pada kasus-kasus nyata yang dihadapi para pelaku usaha mikro sehari-hari.

Saat pemaparan, beliau menegaskan bahwa karakter yang kuat menjadi modal utama yang wajib dimiliki untuk menjadi seorang pengusaha yang hebat dan tahan banting. Dengan kata lain, kuat secara modal saja belum cukup. Oleh sebab itu, pembentukan karakter berbasis nilai-nilai TIDAR menjadi kunci penting yang harus dibangun dan ditanamkan dalam diri setiap pelaku usaha.

“Intinya kami ingin menyebarluaskan nilai-nilai TIDAR ini agar tidak hanya dianut oleh civitas akademika Universitas Tidar saja, tetapi juga dapat menjadi motivasi dan nilai yang dapat diteladani oleh masyarakat luas khususnya dalam membangun fondasi karakter kewirausahaan,” ujar Satrio Tegar Sadewo menekankan komitmen pengabdian kampus bagi masyarakat..

Dalam pelatihan tersebut, kelima nilai TIDAR diulas secara mendalam dan dikaitkan dengan kasus nyata usaha mikro:

  1. Tangguh: Kemampuan pelaku usaha untuk bertahan dan beradaptasi di tengah tantangan bisnis, mandiri, serta konsisten mengambil keputusan bertanggung jawab demi mencapai tujuan usaha.
  2. Integratif: Komitmen seorang pengusaha untuk menjaga prinsip etika dan profesionalisme secara konsisten, yang tercermin melalui sikap jujur, objektif, dan konsekuen terhadap komitmen bisnis.
  3. Dedikatif: Kesediaan dan kesadaran untuk menjalankan usaha secara bertanggung jawab, memberikan manfaat nyata bagi pelanggan, serta berkontribusi positif bagi lingkungan sosial sekitar.
  4. Aktif: Dorongan seorang pengusaha untuk selalu berinisiatif, bersemangat, berpikir rasional dalam memecahkan masalah, serta adaptif terhadap perubahan pasar.
  5. Responsif: Kepekaan pelaku usaha dalam mengenali kebutuhan konsumen atau masalah usaha, lalu memberikan tanggapan secara cepat, tepat, dan sesuai etika.

Guna memastikan materi tersampaikan secara efektif, instrumen evaluasi khusus dirancang dengan mengadopsi indikator empiris ilmu manajemen dan psikologi modern. Setiap peserta diajak menyelesaikan 25 skenario singkat mengenai sikap kewirausahaan, mulai dari ketangguhan, kejujuran, motivasi prososial, perilaku proaktif, hingga daya tanggap.

Hasil Evaluasi

Para peserta terlihat sangat antusias selama sesi ceramah interaktif dan diskusi kelompok. Banyak di antara anggota paguyuban yang aktif berbagi pengalaman mereka dalam menjalankan usaha kecil-kecilan di desa.

“Jujur, dari kegiatan ini kami merasa semakin semangat untuk terus merawat usaha kami. Lewat nilai-nilai TIDAR, kami jadi tahu bahwa modal utama jadi pengusaha sukses itu bukan hanya punya uang yang banyak, tapi karakter yang baik dan tidak mudah menyerah itulah yang harus dijadikan fondasi utama,” ungkapnya penuh dengan rasa haru.

Setelah sesi pembinaan berakhir, peserta kembali mengisi post-test dengan instrumen yang sama untuk melihat sejauh mana progres pemahaman mereka. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan pada seluruh dimensi nilai TIDAR bilamana dibandingkan sebelum pelatihan diberikan.

Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa metode pembinaan interaktif ternyata efektif dalam meningkatkan pemahaman dan motivasi wirausaha bagi kelompok disabilitas. Nilai-nilai TIDAR yang telah diserap diharapkan dapat menjadi bekal mental yang kuat bagi anggota Paguyuban Warsa Mundung dalam mengembangkan usaha mereka ke depan.

 

Warta Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image