Septian Rizky Firmansyah Ubah Strategi Konten agar Dekat dengan Gen Z
| Foto pribadi Septian Rizky Firmansyah (Sumber: Dokumentasi Pribadi) |
SURABAYA
- Kreator muda Septian Rizky Firmansyah membagikan pengalamannya dalam mengemas
isu lingkungan melalui konten media sosial agar lebih mudah diterima generasi
Z. Pengalaman tersebut bermula ketika ia mengunggah video pendek yang menyoroti
tumpukan sampah plastik di pinggir pantai wisata Banyuwangi.
Alih-alih mendapat respons tinggi,
video tersebut hanya memperoleh sedikit interaksi. Sejumlah komentar yang
muncul pun cenderung singkat, seperti ajakan untuk menjaga lingkungan dan
ungkapan keprihatinan terhadap kondisi sampah di kawasan wisata.
Pengalaman itu membuat Septian
menyadari bahwa pesan lingkungan yang disampaikan secara berulang dengan gaya
menggurui tidak selalu mampu menarik perhatian Gen Z. Menurutnya, generasi muda
tidak hanya membutuhkan ajakan untuk peduli, tetapi juga perlu memahami alasan
isu tersebut penting bagi kehidupan mereka serta mengetahui langkah yang dapat
dilakukan tanpa merasa terbebani.
Karena itu, Septian mulai mengubah
pendekatan kontennya. Ia tidak lagi sekadar menyampaikan pesan “ayo peduli
lingkungan”, tetapi berupaya menunjukkan dampak nyata persoalan lingkungan
sekaligus menawarkan solusi yang sederhana dan menyenangkan.
Dalam menyampaikan isu lingkungan,
Septian juga memilih menggunakan bahasa sehari-hari. Istilah seperti “krisis
iklim” atau “kerusakan ekosistem” yang dinilai terasa jauh dari keseharian
mulai digantikan dengan contoh yang lebih dekat, seperti kemasan minuman kopi
yang berserakan di tempat nongkrong, botol plastik yang terbawa arus ke pantai,
hingga sampah makanan di jalur pendakian wisata alam.
Salah satu pendekatan yang
digunakannya adalah membandingkan kondisi tempat wisata yang bersih dengan
kawasan yang dipenuhi sampah. Menurut Septian, tempat wisata yang terawat dapat
menarik pengunjung untuk datang kembali, sedangkan kawasan yang kotor berpotensi
membuat wisatawan enggan berkunjung lagi. Pesan tersebut kemudian dikaitkan
dengan aktivitas dan kebutuhan generasi muda.
Septian juga mengubah cara
menyampaikan ajakan. Alih-alih meminta masyarakat melakukan perubahan besar,
seperti berhenti menggunakan plastik sepenuhnya, ia membagikan langkah
sederhana yang telah dicobanya sendiri. Di antaranya membawa botol minum dan tas
belanja dari rumah, memilah sampah organik dan anorganik, serta mengumpulkan
sampah plastik untuk disetorkan ke bank sampah.
Pendekatan tersebut kemudian
dikembangkan melalui tantangan bersama sejumlah kreator di Surabaya dan
Banyuwangi. Mereka mengajak masyarakat mengikuti tantangan “Hanya butuh 3 menit
untuk memungut 3 sampah saat kamu berkunjung ke tempat wisata”. Tantangan itu
mendapat respons positif dan mendorong sejumlah orang ikut berpartisipasi
sembari membagikan pengalaman mereka melalui konten masing-masing.
Dari pengalaman tersebut, Septian
menilai kreator muda memiliki peran lebih dari sekadar mengingatkan masyarakat
mengenai persoalan lingkungan. Kreator dapat menjadi jembatan yang
menghubungkan isu lingkungan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda, sehingga
pesan yang disampaikan terasa lebih relevan dan mudah diterapkan.
Septian berharap semakin banyak
kreator muda berani mengangkat isu lingkungan dengan gaya dan sudut pandang
yang beragam. Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari tindakan
besar, tetapi dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama
dan disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.